Diet adalah seni menunda kebahagiaan dengan alasan kesehatan.

Senin pagi selalu dimulai dengan ambisi yang membumbung tinggi. Di depan cermin, sebuah sumpah keramat diucapkan dengan penuh keyakinan: "Minggu ini, saya akan diet total!" Targetnya jelas, menunya tertata rapi di kepala—pagi makan oatmeal hambar sewarna semen, siang dada ayam rebus tanpa rasa yang teksturnya mirip penghapus pensil, dan malam hanya minum air putih sembari merenungi dosa-dosa kuliner masa lalu.

Hari pertama berjalan dengan sukses yang dipaksakan. Perut memang berdemo dengan suara gemuruh mirip mesin genset rusak, tetapi benteng pertahanan mental masih berdiri kokoh. Memasuki pukul delapan malam, kemenangan sudah di depan mata. Sampai akhirnya, sebuah frekuensi suara gaib memecah keheningan malam.

Ting... ting... ting... tok!

Itu bukan suara lonceng malaikat, melainkan ketukan wajan legendaris milik Abang Nasi Goreng yang baru saja mangkal di depan gang.

Seketika, konsentrasi buyar. Aroma bumbu halus yang beradu dengan minyak panas dan kecap manis mulai menyusup lewat celah ventilasi kamar. Bau bawang merah goreng berkolaborasi dengan aroma asap khas wajan besi (yang katanya mengandung zat penambah kenikmatan). Udara di dalam kamar mendadak terasa dipenuhi oleh kalori yang menari-nari.

Otak mulai melakukan negosiasi tingkat tinggi. Terjadilah perdebatan sengit antara Malaikat Diet di bahu kanan dan Setan Karbo di bahu kiri.

  • Malaikat Diet: "Ingat celana jinsmu yang sudah beralih fungsi menjadi korset medis! Tahan!"
  • Setan Karbo: "Ah, cuma satu porsi. Lagi pula nasi goreng itu kan pakai sayur kol dan timun. Berarti hitungannya salad. Salad hangat."

Logika mulai melintir. Kaki secara tidak sadar melangkah keluar kamar, dompet entah bagaimana sudah berada di genggaman, dan tahu-tahu tubuh ini sudah berdiri tegak di depan gerobak abang nasi goreng, menatap nyala api kompor gas bertekanan tinggi dengan pandangan terhipnotis.

"Nasi goreng satu Bang. Pedas manis, pakai telur dadar," ucap mulut ini secara refleks, mengkhianati seluruh komitmen yang dibangun sejak subuh.

Proses memasak di depan mata terasa seperti pertunjukan seni yang agung. Ketika nasi putih diaduk dengan brutal, disiram kecap hingga kecokelatan, lalu diberi taburan suwiran ayam, runtuh sudah sisa-sisa kehormatan misi diet minggu ini.

Saat piring berpindah tangan, tidak ada lagi penyesalan. Setiap suapan adalah kebahagiaan hakiki. Diet? Ah, itu adalah masalah untuk diri saya di masa depan. Untuk malam ini, biarlah karbohidrat menjadi pemenang tunggalnya. Lagipula, bukankah melestarikan kuliner tradisional lewat gerobak pinggir jalan adalah bagian dari bela negara?

Misi diet memang gagal total, tetapi setidaknya, perut kenyang dan hati senang. Besok Senin kita coba lagi—tentu saja dengan catatan, si abang nasi goreng tidak lewat depan rumah.