Di kampung, semua orang mengenalnya sebagai Pak Shunk.
Nama aslinya sebenarnya panjang. Sangat panjang. Bahkan waktu kecil, gurunya pernah berkata, "Kalau saya panggil nama lengkapmu, bel istirahat sudah bunyi."
Entah sejak kapan orang-orang memanggilnya Pak Shunk.
Konon, julukan itu muncul karena setiap ada ajakan keluar rumah, jawabannya selalu sama.
"Nanti saya tanya istri dulu."
Mau mancing.
"Nanti saya tanya istri."
Mau ronda.
"Nanti saya tanya istri."
Mau nonton bola.
"Nanti saya tanya istri."
Bahkan suatu hari Pak RT bertanya,
"Pak Shunk, besok gotong royong ya."
Pak Shunk menjawab pelan,
"Saya setuju..."
"...asal pemerintah rumah tangga mengizinkan."
Sejak saat itu, tak ada lagi yang memanggil nama aslinya.
Semua sepakat,
Pak Shunk.
Suatu pagi istrinya menyerahkan sebuah map.
"Pak."
"Iya, Bu."
"Tolong ke Mal Pelayanan Publik."
"Siap."
"Langsung ke sana."
"Iya."
"Jangan belok ke warung kopi."
Pak Shunk mengangguk mantap.
"Tenang saja."
Dalam hati ia berkata,
"Kalau lurus memang ke MPP... habis itu kan tidak ada larangan."
Ia tersenyum sendiri.
Hari ini, pikirnya, kesempatan emas.
Kalau antreannya panjang...
...bisa menyelip satu gelas kopi.
Sesampainya di MPP Kabupaten Tanah Bumbu, Pak Shunk mengambil nomor antrean.
A-078.
Ia melihat layar elektronik.
A-032.
Pak Shunk menghitung pelan.
"Tiga puluh dua..."
"...tujuh puluh delapan..."
Ia tersenyum lebar.
"Masih jauh."
Dalam kepalanya mulai muncul perhitungan yang bahkan lebih rumit daripada menghitung cicilan motor.
"Jalan ke warung dua menit."
"Pesan kopi satu menit."
"Minum tujuh menit."
"Balik dua menit."
"Masih aman."
Pak Shunk hampir berdiri.
Lalu ia berpikir lagi.
"Ah... jangan terburu-buru. Kita lihat dulu kecepatannya."
Ia pun duduk.
Di sampingnya duduk seorang anak kecil.
Anak itu memperhatikan nomor antrean dengan wajah serius.
Lalu bertanya,
"Om..."
"Iya?"
"Kita lagi nunggu apa?"
Pak Shunk menjawab,
"Kita lagi nunggu nomor dipanggil."
"Oh..."
Anak itu mengangguk paham.
Tak lama kemudian terdengar suara.
"Nomor A-015."
Anak kecil langsung berdiri.
Pak Shunk ikut berdiri.
Ibunya heran.
"Lho Pak..."
"Iya?"
"Nomor Bapak berapa?"
Pak Shunk melihat kertas di tangannya.
"A-078."
"Kalau begitu kenapa ikut berdiri?"
Pak Shunk menjawab santai,
"Saya latihan."
"Latihan?"
"Iya."
"Supaya nanti pas nomor saya dipanggil..."
"...gerakannya sudah hafal."
Anak kecil memandang kagum.
"Om ini profesional ya."
Pak Shunk mengangguk serius.
"Kalau latihan itu penting."
Padahal dalam hati ia berkata,
"Sekalian memastikan, kalau saya keluar buat ngopi... sempat apa tidak."
Beberapa menit berlalu.
Pak Shunk melirik layar.
A-041.
Ia mulai optimis.
"Nah... ini waktunya."
Ia berdiri pelan.
Baru satu langkah...
Terdengar suara.
"Nomor A-048."
Pak Shunk duduk lagi.
"Waduh..."
Seorang bapak di sebelahnya bertanya,
"Bapak kenapa berdiri-duduk terus?"
Pak Shunk menjawab lirih,
"Saya sedang negosiasi dengan takdir."
Lima menit kemudian.
A-057.
Pak Shunk menghitung lagi.
"Masih sempat..."
Ia melirik pintu keluar.
Warung kopi terlihat jelas dari kejauhan.
Seolah-olah memanggil.
"Pak Shunk..."
"Kemarilah..."
"Kopi kami baru diseduh..."
Pak Shunk hampir tergoda.
Tapi pengeras suara kembali berbunyi.
"Nomor A-066."
Pak Shunk langsung panik.
"Lho?"
"Ini petugas kerja apa..."
"...pakai turbo?"
Belum sempat mengambil keputusan...
Terdengar suara yang membuat seluruh rencananya runtuh.
"Nomor A-078."
Pak Shunk menutup mata.
Pelan-pelan ia berkata,
"Innalillahi..."
Petugas tersenyum.
"Silakan Pak."
Pak Shunk berjalan ke loket.
Dalam hati ia masih memikirkan kopi.
Tak sampai lima belas menit.
Semua urusan selesai.
Petugas menyerahkan dokumen.
"Sudah selesai, Pak."
Pak Shunk melihat jam.
"Lho..."
"Masih pagi."
Ia keluar gedung dengan wajah seperti kehilangan sesuatu.
Di depan pintu ia bertemu Pak RT.
"Gimana, Shunk?"
"Selesai."
"Cepat?"
"Iya."
"Pelayanannya bagaimana?"
"Bagus."
"Petugasnya?"
"Ramah."
"Terus kenapa wajahmu murung?"
Pak Shunk menghela napas panjang.
"Saya kehilangan alibi."
"Maksudnya?"
"Saya sudah izin ke istri dua jam."
"Iya."
"Urusannya cuma lima belas menit."
"Lalu?"
"Sekarang kalau saya pulang telat..."
"...alasannya apa?"
Pak RT tertawa terbahak-bahak.
"Itu bukan masalah MPP."
"Itu masalah strategi."
Malam harinya mereka berkumpul di warung.
Ironisnya...
Pak Shunk baru berhasil ngopi setelah mendapat izin resmi.
Seorang teman bertanya,
"Shunk..."
"Iya?"
"Katanya MPP bagus?"
Pak Shunk mengangguk.
"Bagus."
"Pelayanannya cepat?"
"Cepat."
"Nyaman?"
"Nyaman."
"Lalu kenapa mukamu seperti habis kehilangan dompet?"
Pak Shunk menyeruput kopi pelan.
"Bukan dompet."
"Lalu?"
"Peluang."
"Peluang apa?"
"Dulu saya kira yang paling lama di MPP itu antreannya."
"Terus?"
"Ternyata..."
"...yang paling lama justru saya mencari alasan supaya boleh mampir ngopi."
Semua yang ada di warung langsung tertawa.
Pak RT menggeleng sambil menepuk bahunya.
"Shunk..."
"Iya?"
"Kalau mau ngopi..."
"...bilang saja sama istri."
Pak Shunk tersenyum pahit.
"Itu sudah pernah saya coba."
"Terus?"
"Istri saya bilang..."
'Ngopi itu boleh. Yang tidak boleh itu bilangnya sebentar, pulangnya magrib.'
Warung kopi pun pecah oleh gelak tawa.
Sejak hari itu, setiap ada warga bertanya tentang Mal Pelayanan Publik Kabupaten Tanah Bumbu, Pak Shunk selalu menjawab dengan wajah serius,
"Pelayanannya cepat, petugasnya ramah, tempatnya nyaman. Yang perlu diperbaiki cuma satu..."
"Apa itu?"
"Tolong antreannya jangan terlalu cepat kalau saya belum sempat ngopi."
Semua tertawa.
Kecuali Pak Shunk.
Karena ia tahu...
Kalau cerita ini sampai terdengar istrinya,
besok-besok yang perlu diurus bukan lagi dokumen,
melainkan izin keluar rumah. π
