“Jam kerja mungkin memiliki batas, tetapi tanggung jawab tidak berhenti ketika jarum jam bergerak pulang.”
Ada sesuatu yang selalu berjalan tanpa pernah meminta izin kepada kita waktu.
Ia tidak peduli apakah pekerjaan kita sudah selesai atau belum. Ia tidak menunggu ketika kita menunda. Ia tidak kembali ketika satu kesempatan telah kita lewatkan.
Dalam dunia kerja, waktu sering kali hanya terlihat sebagai jadwal: kapan datang, kapan mulai bekerja, kapan istirahat, dan kapan pulang.
Namun sesungguhnya, waktu memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Waktu adalah amanah.
Setiap pagi ketika kita memasuki kantor, kita tidak hanya membawa identitas sebagai pegawai. Kita juga membawa tanggung jawab atas pekerjaan yang dipercayakan kepada kita dan pelayanan yang menjadi hak masyarakat.
Bekerja Bukan Sekadar Mengisi Jam Kerja
Menjadi bagian dari sebuah organisasi bukan hanya tentang hadir secara fisik.
Bukan sekadar absen pagi, duduk di meja kerja, kemudian menunggu waktu pulang.
Lebih dari itu, bekerja adalah tentang bagaimana setiap menit yang diberikan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Satu dokumen yang diselesaikan dengan benar mungkin membantu seseorang menyelesaikan urusannya.
Satu pelayanan yang diberikan dengan ramah mungkin membuat masyarakat merasa dihargai.
Satu pekerjaan yang diselesaikan tepat waktu mungkin membuat pekerjaan orang lain tidak ikut tertunda.
Karena itu, menghargai waktu berarti menghargai pekerjaan dan menghargai orang lain.
Disiplin Bukan Karena Diawasi
Budaya kerja yang baik tidak seharusnya hanya tumbuh karena adanya pengawasan.
Sebab ketika seseorang hanya bekerja dengan baik karena diawasi, maka kualitas pekerjaannya akan bergantung pada siapa yang melihat.
Tetapi ketika seseorang bekerja dengan baik karena kesadaran, maka ia akan tetap menjaga tanggung jawab meskipun tidak ada yang memperhatikan.
Datang tepat waktu.
Menyelesaikan pekerjaan sesuai target.
Menjaga dokumen dan fasilitas kantor.
Tidak menyalahgunakan kewenangan.
Memberikan pelayanan secara adil.
Dan tetap jujur meskipun tidak ada yang mengetahui.
Inilah bentuk disiplin yang sesungguhnya.
Disiplin bukan hanya takut pada aturan, tetapi sadar bahwa setiap amanah memiliki pertanggungjawaban.
Nilai Religi dalam Budaya Kerja
Dalam ajaran Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-'Asr:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan...”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa waktu bukan sesuatu yang boleh disia-siakan.
Dalam kehidupan kerja, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi perilaku sederhana:
Iman melahirkan kejujuran.
Ilmu melahirkan profesionalisme.
Tanggung jawab melahirkan integritas.
Kepedulian melahirkan pelayanan yang baik.
Disiplin membuat pekerjaan menjadi terarah.
Dengan demikian, budaya kerja dan nilai religi sebenarnya bukan dua hal yang terpisah.
Keduanya dapat bertemu dalam satu kata:
Amanah.
BerAKHLAK Bukan Sekadar Slogan
Dalam lingkungan ASN, nilai BerAKHLAK mengajarkan pentingnya Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
Nilai-nilai tersebut bukan sekadar tulisan yang terpampang di dinding kantor.
Ia seharusnya hadir dalam perilaku sehari-hari.
Berorientasi Pelayanan berarti memahami bahwa masyarakat adalah pihak yang harus dilayani dengan baik.
Akuntabel berarti berani mempertanggungjawabkan pekerjaan.
Kompeten berarti terus belajar dan meningkatkan kemampuan.
Harmonis berarti menjaga hubungan baik dengan rekan kerja.
Loyal berarti menjalankan tugas dan menjaga kepentingan organisasi sesuai ketentuan.
Adaptif berarti mampu menghadapi perubahan.
Kolaboratif berarti memahami bahwa pekerjaan besar tidak dapat diselesaikan seorang diri.
Ketika nilai-nilai tersebut dipadukan dengan kesadaran spiritual, pekerjaan tidak lagi sekadar rutinitas.
Ia menjadi bagian dari pengabdian.
Jangan Sampai Waktu Habis, Tetapi Makna Tidak Pernah Ada
Ada orang yang bertahun-tahun bekerja tetapi hanya menghitung berapa lama lagi menuju masa pensiun.
Ada pula yang menjalani pekerjaan dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memberikan manfaat.
Keduanya mungkin sama-sama hadir setiap pagi.
Sama-sama duduk di ruangan yang sama.
Sama-sama memiliki jam kerja yang sama.
Namun yang membedakan adalah makna yang mereka berikan terhadap pekerjaannya.
Karena pada akhirnya, yang akan kita tinggalkan bukanlah jumlah jam yang kita habiskan di kantor.
Tetapi jejak dari apa yang kita lakukan selama waktu itu.
Sebab Waktu Tidak Pernah Kembali
Hari ini akan menjadi kemarin.
Bulan ini akan menjadi bagian dari masa lalu.
Dan suatu hari nanti, masa kerja yang panjang akan berubah menjadi kenangan.
Mungkin meja kerja kita akan ditempati orang lain.
Mungkin jabatan kita akan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Mungkin nama kita tidak lagi tertulis dalam daftar orang-orang yang sedang menjalankan tugas.
Tetapi semoga ada sesuatu yang tetap tinggal:
kebaikan dari pekerjaan yang pernah kita lakukan.
Masyarakat yang pernah kita bantu.
Rekan kerja yang pernah kita dukung.
Tugas yang pernah kita selesaikan dengan penuh tanggung jawab.
Dan amanah yang pernah kita jaga dengan kejujuran.
Maka, mari kita belajar melihat waktu dengan cara yang berbeda.
Jangan hanya bertanya:
“Kapan jam pulang?”
Tetapi sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa yang sudah saya berikan hari ini?”
Karena waktu yang kita habiskan untuk bekerja adalah bagian dari umur kita.
Pekerjaan yang kita lakukan adalah bagian dari amanah kita.
Dan setiap amanah, pada akhirnya, akan dipertanggungjawabkan.
Bekerjalah dengan disiplin.
Layani dengan hati.
Jalankan tugas dengan integritas.
Gunakan waktu dengan bijak.
Dan jangan lupa menghadirkan Tuhan dalam setiap pekerjaan.
Sebab mungkin bagi manusia pekerjaan kita terlihat sederhana.
Tetapi jika dilakukan dengan niat yang baik, cara yang benar, dan penuh tanggung jawab—
bisa jadi itulah salah satu bentuk ibadah yang sedang kita jalani tanpa banyak bicara.
“Waktu adalah umur yang sedang berjalan.
Pekerjaan adalah amanah yang sedang dijalankan.
Maka, jangan biarkan keduanya berlalu tanpa makna.”
Mari terus BerAKSI untuk Tanah Bumbu.”
Mahdi S.AP
28 September 2026
