
Pagi ini berlangsung apel yang dipimpin oleh Briyan Ajisoko, S.T., M.Sos, membawa suasana penuh semangat dan energi positif bagi seluruh peserta yang hadir. Apel yang digelar sebagai bagian dari rutinitas pembinaan ini tidak hanya menjadi ajang formal, tetapi juga ruang berbagi wawasan yang relevan dengan dinamika terkini.
Dalam sambutannya, Briyan Ajisoko menyampaikan pesan motivasi yang membangkitkan semangat kebersamaan, sekaligus mengajak seluruh peserta untuk lebih peka terhadap perkembangan geopolitik yang sedang berlangsung, khususnya yang berdampak pada posisi dan peran Indonesia di kancah regional maupun global.
Indonesia di Tengah Dinamika Geopolitik
Beliau menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan posisi strategis di jalur pelayaran internasional, memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Ketegangan geopolitik antara kekuatan-kekuatan besar dunia, isu keamanan di Laut China Selatan, hingga dinamika ekonomi global menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi dan kemandirian bangsa.
Dengan nada optimis, Briyan Ajisoko mengingatkan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk yang besar, serta prinsip politik luar negeri bebas aktif yang telah teruji. Modal ini, menurutnya, menjadi fondasi kuat bagi Indonesia untuk tetap berdiri kokoh di tengah persaingan geopolitik global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Semangat Positif sebagai Kunci Menghadapi Tantangan
Yang menjadi sorotan dari apel pagi ini adalah bagaimana pembahasan isu-isu besar seperti geopolitik disampaikan dengan pendekatan yang membangkitkan optimisme, bukan kekhawatiran. Briyan Ajisoko mengajak seluruh peserta untuk melihat setiap tantangan global sebagai peluang untuk berkontribusi, baik melalui peningkatan kapasitas diri, wawasan kebangsaan, maupun kontribusi nyata di lingkungan masing-masing.
"Kita tidak perlu takut menghadapi dinamika dunia, selama kita terus belajar, bersatu, dan menjaga semangat gotong royong sebagai bangsa," demikian pesan inti yang disampaikan dalam apel tersebut.
Dan pada apel pagi ini Kepala Dinas PMPTSP Briyan Ajisoko, S.T., M.Sos, juga memberikan amanah singkat untuk para karyawan dan peserta apel sebuah petuah kata-kata bahasa inggris yang berbunyi "A sense of belonging" yang artinya (Rasa memiliki) Membahas tentang rasa memiliki di ruang lingkup Dinas PMPTSP yang dominan sebagai pelayan bagi masyarakat.
Tanggung Jawab dalam Pelayanan Publik: Amanah yang Tak Boleh Ditawar
Dalam sebuah pemerintahan, jabatan bukanlah hadiah, melainkan amanah. Setiap pegawai negeri, mulai dari staf administrasi hingga pejabat tinggi, mengemban tanggung jawab yang jauh melampaui deskripsi pekerjaan di atas kertas. Mereka adalah pengelola kepercayaan publik, dan kepercayaan itu, seperti kaca, mudah retak namun sulit disatukan kembali.
Tanggung Jawab sebagai Fondasi Pelayanan
Peribahasa Inggris mengatakan, "With great power comes great responsibility" — kekuasaan besar selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab besar. Dalam konteks birokrasi, ini berarti setiap wewenang yang diberikan negara kepada seorang pegawai—baik itu mengelola anggaran, memutuskan kebijakan, atau melayani masyarakat—harus dijalankan dengan kesadaran penuh bahwa dampaknya menyentuh kehidupan orang banyak.
Sayangnya, tidak sedikit pegawai pemerintahan yang memandang posisinya sekadar rutinitas: datang, duduk, pulang. Padahal, ketika seseorang bekerja di sektor publik, ia tidak lagi hanya mewakili dirinya sendiri, melainkan institusi dan negara. Kesalahan kecil dalam pelayanan bisa berdampak besar pada kepercayaan publik terhadap pemerintah secara keseluruhan.

Integritas: Ketika Tak Ada yang Mengawasi
Ada pepatah Inggris lain yang relevan: "Integrity is doing the right thing even when no one is watching" — integritas adalah melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Inilah inti dari rasa tanggung jawab sejati. Seorang pegawai pemerintahan yang berintegritas tidak menunggu diawasi atasan atau diperiksa inspektorat untuk bekerja jujur dan disiplin. Ia melakukannya karena memahami bahwa gajinya berasal dari pajak rakyat, dan setiap keputusannya berpotensi mengubah nasib banyak orang.
Konsistensi dan Ketekunan
Membangun budaya tanggung jawab bukan pekerjaan semalam. Dibutuhkan proses panjang, evaluasi berkelanjutan, dan keteladanan dari pimpinan. Namun seperti kata pepatah, "Rome wasn't built in a day" — Roma tidak dibangun dalam sehari. Perubahan budaya kerja yang bertanggung jawab di lingkungan pemerintahan memang memerlukan waktu, tetapi bukan berarti tidak mungkin dicapai, asalkan ada komitmen yang konsisten dari setiap level organisasi.
Konsistensi ini juga tercermin dalam pepatah "Actions speak louder than words" — tindakan lebih bermakna daripada kata-kata. Slogan pelayanan prima atau visi-misi yang tertempel di dinding kantor tidak akan berarti apa-apa jika tidak diwujudkan dalam sikap nyata sehari-hari: melayani dengan ramah, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
Dampak bagi Kepercayaan Publik
Ketika pegawai pemerintahan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, dampaknya bukan hanya pada efisiensi birokrasi, tetapi juga pada legitimasi pemerintah di mata rakyat. Sebaliknya, satu kasus penyalahgunaan wewenang dapat mencoreng citra ribuan pegawai lain yang telah bekerja jujur. Di sinilah pentingnya prinsip "A chain is only as strong as its weakest link" — sebuah rantai hanya sekuat mata rantai terlemahnya. Tanggung jawab bukan hanya tugas individu, melainkan tanggung jawab kolektif untuk menjaga kredibilitas institusi secara keseluruhan.
Penutup
Rasa memiliki tanggung jawab dalam pekerjaan pemerintahan bukanlah sekadar formalitas administratif, melainkan cerminan karakter dan komitmen terhadap nilai-nilai pelayanan publik. Dengan integritas, konsistensi, dan kesadaran akan dampak dari setiap keputusan, pegawai pemerintahan dapat menjadi teladan bagi terciptanya birokrasi yang bersih, efisien, dan dipercaya oleh masyarakat.
Pada akhirnya, tanggung jawab sejati lahir bukan dari paksaan aturan, tetapi dari kesadaran bahwa setiap jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan—tidak hanya kepada atasan, tetapi juga kepada rakyat dan, pada akhirnya, kepada diri sendiri.
