Batulicin -Setiap pagi, sebelum roda birokrasi berputar dan pelayanan publik dimulai, lantai kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dan Mal Pelayanan Publik ( MPP) Tanah Bumbu sudah berkilau. Di balik kenyamanan, kebersihan, dan keasrian ruang pelayanan tersebut, ada sosok-sosok tangguh yang bekerja dalam senyap. Mereka adalah petugas kebersihan (cleaning service), sang pahlawan sunyi yang kerap luput dari pandangan, namun perannya amat vital bagi kelancaran roda instansi.
Menjadi seorang cleaning service di dinas yang melayani perizinan dan investasi tentu memiliki tantangan tersendiri. Ratusan masyarakat dan investor datang setiap hari, menuntut kebersihan gedung harus selalu terjaga di level tertinggi demi menjaga citra pelayanan prima. Namun, di tengah peluh dan rutinitas yang melelahkan, terselip sebuah permata yang membuat mereka tetap bertahan dan tersenyum: rasa syukur.

Bagi seorang petugas kebersihan yang tulus, pekerjaan ini bukan sekadar tentang menyapu debu atau mengosongkan tempat sampah. Ini adalah tentang dedikasi. " Walaupun ulun sudah mulai berumur tapi setiap ulun tetap bersykur kawa turun ke Kantor menyapu dan membersihkan ruangan kantor setiap kali ulun membersihkan kursi tunggu masyarakat atau meja pelayanan, ulun bersyukur kawa membantu urang walau hanya dengan membersihkan kantor PMPTSP ini. Senada dengan itu, Petugas Kebersihan di MPP juga merasa senang tugas di MPP “ walau banyak tarus urangnya tiap hari ke MPP, ulun senang aja begawe di MPP kawa melayani urang banyak mudahan para pengunjung merasa nyaman, urusan mereka lancar, dan itu menjadi berkah untuk ulun ," ujar petugas di MPP dengan senyum tulus.
Rasa syukur mereka tidak diukur dari seberapa besar sorotan lampu atau pujian yang diterima. Mereka bersyukur karena lewat pekerjaan ini, mereka bisa menjadi bagian penting dari kenyamanan publik. Mereka bangga melihat wajah-wajah puas para pemohon izin yang betah berlama-lama di ruang pelayanan yang wangi dan bersih.
Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, memiliki pekerjaan tetap sebagai mitra di instansi pemerintah seperti DPMPTSP adalah anugerah yang luar biasa bagi mereka. Rasa syukur itu mengalir setiap kali mereka mampu membawa pulang nafkah yang halal untuk keluarga di rumah. Setiap tetes keringat yang jatuh di lantai kantor dikonversi menjadi sebongkah harapan: untuk biaya sekolah anak, penopang dapur keluarga, dan modal kehidupan yang berkah. Mereka tidak mengeluh dengan status "di balik layar", sebab bagi mereka, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh manfaat dan kehalalan dari apa yang dikerjakan.

Salah satu sumber syukur terbesar para pahlawan sunyi ini adalah lingkungan kerja yang humanis. Di DPMPTSP, sinergi antarpegawai biasanya terbangun dengan baik. Sapaan ramah dari kepala dinas, senyuman dari para aparatur sipil negara (ASN), hingga ucapan "terima kasih" yang tulus dari masyarakat setelah lantai yang basah dipel, menjadi energi tambahan yang tidak ternilai harganya. Apresiasi-apresiasi kecil inilah yang membakar semangat mereka. Mereka merasa dimanusiakan, dihargai, dan dianggap sebagai bagian dari keluarga besar instansi, bukan sekadar pekerja
Kisah rasa syukur dari petugas cleaning service DPMPTSP ini adalah tamparan sekaligus inspirasi bagi kita semua. Mereka mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kedamaian hati tidak datang dari posisi yang tinggi, melainkan dari hati yang lapang dan pandai berterima kasih. Ketika kita terkadang mengeluh dengan tumpukan tugas kantor atau tekanan pekerjaan, ingatlah ada sosok pahlawan sunyi yang sejak subuh sudah bergelut dengan kotoran demi kenyamanan kita. Mereka bekerja dengan ikhlas, tersenyum dengan tulus, dan pulang dengan rasa syukur yang penuh. Terima kasih, para pahlawan sunyi DPMPTSP Tanah Bumbu. Dedikasi dan rasa syukurmu adalah fondasi tersembunyi dari pelayanan prima yang dirasakan oleh Kabupaten kita tercinta Tanah Bumbu.
